Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai

May 01, 2011 Amy 24 Comments

Mempunyai keinginan mesti mengukur kemampuan diri. Kayak aku misalnya, dengan tinggi 153 cm, gak mungkin akan bisa jadi pramugari. Apapun kekurangan sebagai manusia, mesti tetap memaksimalkan potensi yang ada.

Angan-angan itu bisa menjadikan seseorang mulia andai dia berangan-angan jadi seorang yang sholeh atau sholehah. Tapi sebaliknya angan-angan bisa menjadikan seseorang dilaknat oleh Allah, bila mempunyai keinginan untuk mempunyai banyak harta dan bisa bersenang-senang di dunia ini.

Allah berfirman:
Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar". Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS Al Qhasash : 79 - 81)

Banyak buku-buku motivasi yang menceritakan seseorang mampu mencapai cita-cita dengan petunjuk begini begitu. Tapi bagi yang ingin selamat dunia dan akhirat, maka petunjuk yang terbaik adalah Al Qur'an dan hadis.

Bila ingin selamat dunia akhirat, berangan-anganlah ingin menjadi orang yang sholeh atau sholehah. Biarpun tidak memiliki harta sekalipun, seseorang yang berangan-angan tinggi ingin melakukan kesenangan duniawi biarpun hanya sekedar keinginan, maka hal ini bisa membuatnya jadi sama buruknya dengan orang yang melakukan kesenangan duniawi dengan meninggalkan ajaran Islam yang benar.

Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda
"Dunia ini di huni oleh empat jenis hamba:

(pertama), hamba yang Allah ta’ala anugerahi harta dan ilmu sehingga keduanya menjadi perantara dia untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, menyambung tali silaturahmi, dan dia mengetahui hak-hak Allah ta’ala. Inilah sebaik-baik golongan.

(Kedua), hamba yang Allah ta’ala anugerahi ilmu namun tidak dianugrahi harta, maka dia berangan-angan: “andaisaja aku punya harta tentu aku akan beramal seperti amalanya si fulan (yakni golongan yang pertama)”. Golongan ini pahalanya sama dengan yang pertama.

(Ketiga), hamba yang Allah ta’ala anugerahi harta namun tidak dianugerahi ilmu, maka dia belanjakan hartanya itu seenaknya tanpa ilmu, dia tidak menggunakannya untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tidak juga untuk menyambung tali silaturahmi, dan bahkan dia sama sekali tidak tahu hak-hak Allah ta’ala. Inilah seburuk-buruk golongan.

(Keempat), hamba yang tidak dianugerahi harta dan tidak pula dianugrahi ilmu, maka dia berangan-angan: “andai saja aku punya harta tentu aku akan berfoya-foya seperti si fulan (yakni golongan yang ketiga)”. Golongan ini dosanya sama dengan yang ke tiga”.
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

24 comments:

  1. wah itu mah gunung beneran mba ratna


    met sore

    ReplyDelete
  2. yaha.. Untungnya gunungnya gak bisa nangis th mbak, kalo keliatan bisa nangis pasti bakalan ikut sedih kalo denger curhatan nya..
    Sore mbak.

    ReplyDelete
  3. mbak tolong bantu aku isi kuesiner buat skripsi yah.. jawab aja sepengetahuan mbaknya aja..

    http://emmanuelthespecialone.blogspot.com/2011/05/hey-para-blogger-semua-kali-ini-gw-iman.html

    ReplyDelete
  4. Jadi pengen ngeliat mbak ami melankolis, hehe :p

    ReplyDelete
  5. wah saking cintanya sama merapi ya sampai-sampai dinyanyikan segala ...

    ReplyDelete
  6. hem kok saya malah pingin nulis tentang gunung nih..

    ReplyDelete
  7. curhatnya ke alam ya mbak.. :)

    ReplyDelete
  8. makasih kunjugannya ...mari berteman hidupkan blogging... dan mohon arahannya... budayakan menulis n membaca... riz-ved.blogspot.com sedang blogwalking...

    ReplyDelete
  9. itu foto jepret sendiri ya..?

    semoga gunung selalu menjaga kita ya.. :)

    ReplyDelete
  10. Sepertinya waktu menjempret foto ada perasaan was-was ya Mba ? tuh.... fotonya goyang ! He...x9


    Sukses selalu

    Salam

    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  11. Saat melihat orang sedih saya suka membayangkan seperti melihat film yang ada dialognya seperti ini. Berteriaklah yang keras kalau itu bisa mgurangi kesedihanmu. Atau kalau mau kusediakan dadaku dan menangislah sepuasmu di dadaku. Pukul-pukul lah jika itu bisa meredakan kesedihanmu aku ikhlas melakukannya.

    Hem, saya lupa di film apa. :)

    ReplyDelete
  12. wah kayaknya enak ya rumah dekat gunung, adeeem.. salam kenal..

    ReplyDelete
  13. ya meluknya dikit-dikit mi, biar bisa kepeluk semuanya.. *plaaak.

    serunyaa ketemu sama temen jadul.. hahaha. ketauan tuuh 80an masih SMP berartii... *ups

    ReplyDelete
  14. untuk datanya bisa mbak dikirim via email.... heheheh....

    ReplyDelete
  15. orangnya gak ada apah ya kok sepi?.

    ReplyDelete
  16. perasaan gunungnya baru aje meletus tuh wkwkwk

    ReplyDelete
  17. @ warsito,kirain keinginan yang gak kesampaian yah...

    ReplyDelete
  18. @ Ardian, gunung Merapi kalo nangis itu karena sedih, banyak orang jahat di muka bumi. Kebetulan aja momennya barengan pas aku sedih juga dulu itu meletusnya...

    ReplyDelete
  19. @ Noeel, udah, emang emailnya apaan? Ntar aku cari di blogmu, FBmu dah gak diaktifin lagi toh...

    ReplyDelete
  20. @ Iam, aku pengen liat Iam lagi normal, hahaha....

    ReplyDelete
  21. @ Joe, iya. Dulu abu Merapi ampe ditiup ke Bogor. Trus memoriku muncul semua

    ReplyDelete
  22. @ Lozz, pecinta alam yah... Huhuhu, saluuut...

    ReplyDelete
  23. @ zasachi, dibilang curhat enggak juga. Cuman kaget banget waktu meletus kasih kesempatan aku bikin blog. Sekolahan libur. Merapi sangat support untuk menjadikanku lebih baik

    ReplyDelete
  24. wah sayang potonya kok pecah gitu mbak, padahal dah bagus

    ReplyDelete