Pengalaman Haji 2019

July 29, 2020 Amy 5 Comments



Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Sebetulnya keinginan menuliskan pengalaman haji 2019 sudah sejak berangkat. Nanti mau ditulis di blog. Tapi karena banyak urusan yang perlu diselesaikan, tertunda sampai akhirnya liburan sekolah akhir 2019.

Banyak tulisan pendek di Facebook tentang haji 2019. Live streaming juga.

PERSIAPAN HAJI

Awal tahun 2019 saya sudah mulai mencoba melihat youtube perjalanan haji 2018. Membaca artikel apa saja yang perlu dibawa. Mengikuti banyak orang itu memang beda-beda, malah membingungkan. Kayak orang Indonesia yang suka sering mencuci, memasak, walau tidak diijinkan dilakukan di dalam kamar. Sampai ribut waktu menginap di Mina rebutan jatah tidur yang mepet dalam tenda. Ini persiapan saya sebagai perempuan single tanpa pasangan ke sana.


1. Baju dan alas kaki

Sesuaikan dengan musim tentu saja. Saya membawa daster baru motif hitam coklat, ditambah jilbab instan bahan spandek yang menyatu dengan tangan warna hitam. Setelah membaca artikel bahan spandek kena matahari bakalan panas banget, memang benar. Tapi praktis memang dan cocok buat saya. Dibela-belain pakai payung untuk mengatasi panas menyengat di kepala ini. Atau dikasih handuk atau kanebo baru lebar yang dibasahi di kepala. Apalagi kalau sampai tiduran di masjid, spandek itu praktis banget. Dalaman yang cocok memang yang rajut, saya bawa bahan kaos meleset kemana-mana.

Kalau memang telaten pakai kerudung kain lebar dengan peniti. Hanya kalau tiduran di masjid mesti dibereskan lagi.

Baju memang tidak perlu bawa banyak, karena bisa dicuci, cepat kering nanti dipakai lagi. Waktu mengirim barang ke indonesia lewat cargo, saya kirim beberapa baju kembali ke Indonesia. Tapi tetap saja ya butuh cadangan jangan terlalu sedikit. Bisa belanja gamis hitam untuk oleh-oleh, kalau terpaksa digunakan untuk cadangan. Kayak saya kemarin, siapa menyangka hujan lebat di Mina, jemuran basah, baju basah.

Sepatu sebaiknya yang nyaman di kaki dan tentunya awet. Disarankan menggunakan sandal gunung yang ringan, nyaman dan kuat. Saya sendiri menggunakan sandal selop karet merk Crocs dan sepatu Skechers

Ini barang yang aku bawa antara lain
- baju seragam nasional
- baju ihram putih 2
- baju ke masjid gamis hitam 2
- baju tidur gamis batik 2
- kaos kaki wudhu tebal, karena sholat di sana tidak pakai mukena.
- sampai sana beli beberapa baju untuk bisa untuk cadangan
- sandal selop merk Crocs dan sepatu Skechers
- payung lipat
Bisa digulung kasih karet atau masukkan plastik kayak baju yang dipres dari laundry.



2. Makanan dan minuman

Saya beranggapan bahwa saya adalah orang yang tidak rewel dalam hal makanan. Tapi ternyata walaupun dikasih jaminan selama manasik haji oleh pemerintah makanan layak makan, sering kali tidak doyan makan. Rendang instan misalnya, dan lauk lain yang awet sebaiknya memang dibawa yang banyak. Makanannya dimasak dalam jumlah banyak, nasi putih selalu ada tapi bumbunya minimalis. Beberapa teman malah diolah lagi dengan bumbu, disuwir-suwir dibumbui lagi dimasak dengan rice cooker.

Air putih melimpah. Saya itu membaca artikel, membawa tempat minum ini itu. Setiap hari dikasih air minum botolan dan bisa diisi dengan air zam-zam kalau ke masjid. Pemerintah juga memberi botol minum ada semprotannya, walau ada teman yang membawa botol semprotan air dalam ukuran kecil.

Btw, saya baru tahu di Indonesia ada yang jual payung yang bisa menyemprotkan air dalam bentuk uap supaya tidak kepanasan dan dehidrasi. Saya sih gak masalah multi tasking, pegang payung, semprotan, dan hape untuk live facebook. Banyak teman lebih nyaman dengan topi lebar saja.


3. Masker


Ada teman yang menggunakan buff (semacam bando lebar) selama di sana. Saya sendiri pakai masker kain bahan katun. Tidak usah beli masker kertas, saat di asrama haji diberi banyak banget, termasuk tempat minum yang ada semprotannya.


4. Kantong pipis

Masalah kantong pipis ini, saya dan teman-teman kesulitan menggunakan. Malah lebih nyaman pipis di diaper dewasa. Diaper dewasa di sana harganya berlipat-lipat dibandingkan di Indonesia, dan sekali pipis sudah bocor.  Kalau mau membeli kantong pipis coba praktek dulu di Indonesia sampai mahir nanti gunakan di sana. Ini saat di Mina saat antrian kamar mandi mengular.


5. Ember untuk mencuci

Bagi yang kloter awal, berangkat ke madinah dulu baru ke Mina. Saya membawa baskom lipat beli di shopee ukuran kecil. Biasanya beli ember itu di Mekah, jadi mencuci itu hanya disiram di shower saat di Madinah. Bisa membawa ember lipat, baskom kotak, ada teman bisa memasukkan ember cukup besar ke koper.

Update 25 Juli 2020... lama banget ya sambungannya


DI ASRAMA HAJI

Di Asrama haji kita lebih banyak menunggu. Menginap di sana untuk mendapat pengarahan, uang saku, pemeriksaan kesehatan.

Nanti nama dipanggil satu demi satu untuk diberi amplop berisi uang saku.

Di Asrama Haji embarkasi Solo ada toko menjual perlengkapan Haji. Waktu aku dites kesehatan sempet panik karena HB di bawah 10. Lari ke toko beli Sangobion.

Alhamdulillah selama berhaji tidak ada keluhan pusing karena kurang darah. Rutin minum habbatussauda, dan untuk mengatasi batuk, bangun tidur kapsul habbatussauda dibuka dialirkan ke tenggorokan.


Pembagian uang saku Riyal di asrama haji


NAIK PESAWAT

Penerbangan  ke Madinah. Sekitar 10 jam, berhenti di kota Padang untuk mengisi bahan bakar. Lumayan antri bila ingin ke toilet. Makanan disajikan sebagaimana menu di pesawat terbang pada umumnya. 


Di pesawat dari Solo menuju ke Madinah


DI KOTA MADINAH


 Turun di kota Madinah ngantri cukup panjang. Kuota internet haji diaktifkan. Menggunakan XL untuk paket haji, dan cukup memuaskan bisa sering live Facebook, dan google. Temen pake 3 pulsa dipakai untuk selain sosmed cepat kehilangan pulsa. Yang pake telkomsel mengaktifkan beberapa kali gagal tapi mesti bayar paketnya.

Harus langsung masuk ke bis gak boleh nunggu teman-teman satu rombongan.

Langsung menuju ke hotel, sempet menunggu lama untuk dapat kamar. Kamar ternyata belum siap huni. Tapi pada dasarnya hotel berbintang 3, matras kasur kualitas bagus. Sedikit akal-akalan untuk menjemur baju, karena tidak ada tempat jemuran seperti hotel di Mekah nantinya.

Jarak dari hotel menuju ke masjid Nabawi sekitar 600 meter. Ada pertokoan di dekat hotel, beberapa teman sudah mulai belanja. Bila terlambat datang ke masjid, sholat di halaman.

Di Madinah sekitar 8 hari. Ada piknik bersama kemenag ke bukit Uhud dan kebun kurma.


di Jabal Uhud

Kalau terlambat sholat di halaman masjid Nabawi



DI MEKAH

Berada di Mekah cukup lama, lebih dari 3 minggu. Setiap hari berjalan dari hotel menuju ke masjid al Haram sekitar 1,7 km. Ini termasuk hotel dari radius kurang dari 2 km termasuk paling dekat. Ada masjid di dekat hotel yang menggunakan ceramah dalam bahasa Indonesia.

Tentang makanan, terus terang karena katering digunakan dalam jumlah banyak, kadang kualitas masakannya memang kurang mengundang selera. Sangat disarankan membawa bekal lauk matang, kalau nasi putih melimpah. Di depan hotel pagi hari juga ada penjual makanan.

Saya tidur di kamar cukup besar, ada 5 tempat tidur dan ruang cukup besar untuk karpet, bisa untuk duduk-duduk. Kamar teman-teman lain kapasitas 2 kasur diisi 3 kasur jadi ruang yang tersisa sedikit.

Belanja beberapa kali ke pasar Jafaria. Tapi kalau mau beli kurma dalam jumlah banyak ada namanya pasar Kakkiyah.

Ada tur bersama KBIH ke jabal rahmah dan jabal magnet.




Di Jabal Rahmah
Masjid Al Haram dari arah masjid baru ekspansi

Pelataran Ka'bah













DI MINA, ARAFAH, DAN MUZDALIFAH


Bagi yang ikut Tarwiyah, maka berangkat sehari terlebih dulu dibanding rombongan bersama kemenag. Saya berangkat bersama rombongan KBIH, tengah malam menuju tenda di Mina. Baju ihrom masih dipakai sampai hari pertama melempar jumrah.

Saat di tenda, sarapan siap-siap ke padang Arafah. Di padang Arafah berada di tenda. Sempat hujan angin, geluduk, petir, mati lampu. Sorenya kita berdoa di halaman, hujan sudah berhenti, udara sangat sejuk.

Setelah dari Arafah ke Muzdalifah untuk mengumpulkan batu. Batu sduah disiapkan di tas kecil. Saking lelahnya atau gimana, saya ketiduran walau hanya membawa tikar tipis. Muzdalifah seperti lapangan yang sekelilingnya ada jalan raya. Juga disediakan kamar mandi.

Setelah itu kembali ke Mina untuk melempar Jumrah. Karena rombongan menjalankan nafar sani, maka kita pulang setelah hari ke 4.

Pada hari ke 2 hujan deras sampai banjir, hanya sebatas sandal yang terbawa arus air, tidak sampai masuk tenda.

Setelah itu kembali ke Mekah untuk menyelesaikan umroh wajib rangkaian haji.

Tenda di Mina, hari pertaman masih sepi belum padat

Tenda di Arafah

Berdo'a di halaman tenda saat di Arafah


Muzdalifah, tempat mengumpulkan kerikil

Kerikil yang sudah disiapkan di kantong kecil


Di depan tempat melempar jamarat



Lebih banyak foto-foto, video pendek saya upload di page Facebook saya.


https://www.facebook.com/RatnawatiUtamiPage/

Terima kasih.

5 comments:

  1. Kalau kuota hajinya tahun 2020 bisa tidak berangkat ya bunda.Alhamdulillah bunda Amy berangkat tahun 2019.Semoga ibadah hajinya mabrur.Aamiin.

    ReplyDelete
  2. Pengalaman yang dituliskan seperti ini sangat bermanfaat bagi jamaah yang akan berangkat haji. Makasih banyak ya, Mbak.

    ReplyDelete
  3. Masya Allah mbak amy alhamdulillah terimakasih share pengalamannya bisa jadi bekal ilmu persiapan berhaji.

    ReplyDelete