Kisah di bulan Januari

9 comments


Di bulan Januari ini aku kehilangan salah satu anak asuhku. Kalo kehilangan karena pindah kota atau lulus itu biasa. tapi itu karena menderita Rett syndrome dan perkembangannya memburuk.

Ada seorang Ibu menanyakan kenapa kondisi anak ini yang berumur tiga tahun tapi perkembangannya seperti anak berumur satu tahun. Aku cuman bisa jawab "banyak-banyak bersyukur kita mempunyai anak yang normal Bu"

Ada lagi seorang ibu yang bercerita tiap kali mendapat masalah kesehatan berdo'a ditambah sedekah minta kesembuhan saat sakit jadi biasanya jadi cepat sembuh aku berkomentar "pada dasarnya bila seseorang dalam keadaan kritis kita mendo'akan yang terbaik. Berusaha ikhlas semampunya apa akan diambil Allah atau diberi kesembuhan". Aku jadi ingat, waktu almarhum Bapakku meninggal saat shalat Shubuh, pak Amien Rais mengosongkan jadwal hari itu, dari pagi sampai siang berada di rumah. Beliau menyatakan "Insya Allah ciri-cirinya meninggal dengan khusnul khotimah". Ibuku sendiri seperti mendapat angin segar yang membuat beliau tetap tersenyum menerima tamu-tamu. Ada kekuatan yang sulit dijelaskan, begitu menurut Ibuku. Dan memang, Islam mengajarkan agar jangan menangis sampai meratap bila ada anggota keluarga meninggal. Bahkan secara metafisika roh bisa merasakan kepedihan sangat dalam bila anggota keluarganya menangis sampai meratap-ratap apalagi histeris. Bapakku meninggal di bulan Desember 2008.

Saat acara parenting di sekolahan, ada seorang ibu menanyakan, kenapa kalo di rumah anak sulit makan, sulit diatur tapi di sekolah malah menurut dengan guru. Jawaban psikolog anak adalah, bagaimana sikap dan ekspresi orang tua saat mengajak anaknya makan? Apa emosi bila anaknya tidak mau makan sampai mencubit segala. Sementara di sekolahan diajak nyanyi-nyanyi dulu sebelum makan sehingga moodnya terbentuk. Apalagi melihat teman-temannya makan dengan lahap membuatnya semangat makan, sementara barangkali di rumah anak disuapin mbaknya, Ibunya sibuk ketawa-ketawa sendiri BBMan (mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat).

Kesehatan yang kita miliki adalah termasuk anugerah Allah yang sangat berharga. Saat sudah berumur kayak aku, kaki yang dulu dicemaskan karena banyak selulit (waktu kuliah aku lebih gemuk), sekarang sudah tidak bisa dipakai untuk lari 10 putaran lapangan sepakbola seperti dulu. Gigi yang dicemaskan karena tidak  berkilau seperti mutiara sekarang kadang-kadang ngilu untuk makan es krim. Rajin-rajin bersyukur, Insya Allah hidup kita akan lebih bermakna...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

9 comments:

  1. Wah sip, rajin2 bersyukur ^^

    ReplyDelete
  2. dgn bersyukur ditiap keadaan maka situasi apa pun akan terasa plong... :)

    ReplyDelete
  3. Syukur menambah nikmatnya anugerah yang kita trima.

    ReplyDelete
  4. bersyukur memang lebih baik.. yah, terkadang melihat banyak yang kondisinya tidk seberutung kita akan membuatt kita lebih banyak bersyukur

    ReplyDelete
  5. dengan bersyukur... kita bisa menikmati hidup... ^^

    ReplyDelete
  6. aku juga mensyukuri kemampuan mendengarku yg terbatas, aku ambil hikmahnya saja, aku jadi tidak mendengar percakapan yg tidak perlu, misalnya saat orang-orang ngerumpi :D

    ReplyDelete
  7. wah, aku dari dulu malah nggak mampu lari sepuluh kali putaran lapangan sepak bola. paru-paru rasanya ditusukin. kaki kuat tapi dada yang tidak. kalau dulu tidak kuat apalagi sekarang?

    ReplyDelete
  8. alhamdulillah masih di beri kenormalan,,
    iya mbak,kalau kita menangisi seseorang yang meninggal malah akan memberatkan orang yang meninggal tersebut.

    ReplyDelete