Aku takjub...

17 comments
Setelah berperang di pikiranku beberapa judul tulisan, akhirnya aku memilih yang ini. Bak anak kecil balita, mereka mudah takjub tiap melihat sesuatu yang baru. Misalnya anak yang hanya bisa menggunakan sepeda roda tiga, akan takjub melihat anak lebih besar bisa menggunakan sepeda roda dua.




Aku takjub akan setiap perubahan dalam hidup ini. Jadi guru playgrup membuatku semakin mudah untuk takjub atas perubahan pesat seorang anak. Ada bayi berumur 1 tahun, yang saat masuk ke Baby Day Care belum banyak bicara, hanya dalam 2 bulan sudah menyebut namaku (biarpun hanya buntutnya), minta makan, minta minum. What amazing...

Sejak kecil aku mudah sekali untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan, sampai aku tidak menghargai kehidupan. Waktu SD gak pernah belajar tapi dapat nilai 10 untuk matematika dan beberapa kali juara kelas. Nah, waktu SMP itulah, aku suka membaca. Dan aku mulai bertanya-tanya tentang asal usul kehidupan, kenapa manusia diciptakan berbeda. Nilai raporku merosot drastis, tapi masih di atas rata-rata. Oh ya, waktu SMP banyak kakak kelas menelponku mengajak aku kenalan. Jaman dulu gak ada hp kan, jadi krang kring melulu. Gak ada yang nelpon sendirian, banyakan sih ada cekakak cekikik di belakangnya. Betapa dulu jaman SMP yang benar-benar lugu. Sekarang temen-temen SMPku bilang, dulu waktu aku SMP suka melamun, seperti hidup di dunia sendiri...

Waktu SMA aku tukang tidur dan ngemil. Di kelas buku catatanku cuman corat coret,dan tiap istirahat kadang aku milih tidur di kelas. Baru semangat kalo ada latihan paduan suara atau latihan sofbol untuk persiapan Kejurnas Yunior. Herannya masih bisa lulus, terus masuk UGM.

Di UGM lebih ajaib lagi. Lebih sering nongkrong di Gelanggang Mahasiswa daripada di kampus. Masih bisa lulus juga. Ini ada tulisanku tentang Gelanggang Mahasiswa UGM di notes Facebook, Maret 2009.


Gelanggang Mahasiswa UGM akhir 80an

Dulu waktu aku masih kuliah di UGM, akhir 80an sampai awal 90an, UGM masih "miskin". Hampir semua kegiatan ekstra kurikuler diselenggarakan di gelanggang mahasiswa, atau kita sebut gelanggang saja. Mulai dari sholat Jum'at dan tarawih (sekarang sudah ada masjid kampus yang megah), juga berbagai macam olahraga dan kesenian. Dulu kalau wisuda juga masih di depan balairung dengan tenda biru (lumayan panasnya, kasihan yang diwisuda, suka ada yang pingsan segala), sekarang sudah ada Graha Sabha Pramana. Aku lulus memang sengaja dilama-lamain biar bisa wisuda di gedung baru (he he he... alasan).

Kadang juga diselenggarakan pameran di lapangan indoor gelanggang yang sempit itu. Tapi salah satu yang heboh adalah waktu ada kejuaraan voli putri, cowok-cowok pada jongkok nonton di pinggir lapangan, dan matanya hampir tidak berkedip.. ampun deh.

Waktu kuliah dulu aku cukup sering ke gelanggang. Kalau sedang ada latihan paduan suara, apalagi menjelang lomba, bisa hampir setiap hari latihannya. Jendela di gelanggang itu besar-besar, cukup besar untuk dilewati para mahasiswa. Biarpun dari pihak universitas sudah menyarankan untuk melewati pintu depan, tapi dengan alasan kepraktisan dekat motor yang diparkir, mahasiswa tetap saja melewati jendela.

Suatu hari aku melihat ada film jadul di TV yang bikin aku ketawa. Ada adegan dimana mahasiswanya keluar masuk lewat jendela gelanggang, kalau tidak salah sih judulnya Cintaku Di Kampus Biru. 


Gelanggang oh gelanggang...


Sekian tahun berlalu, tahun 2003 akhirnya aku mendapat teguran keras oleh Allah. Waktu reuni dengan teman SMA sekelasku di tahun 2010 lalu, aku bilang seperti ditampar berkali-kali sambil ada yang berteriak-teriak "sadar, sadar !!". Pada tahun awal tahun 2000 aku memang sering mimpi buruk, masuk ke dalam labirin dan tidak bisa keluar.

Tahun 2009 adalah salah satu turning pointku, salah satu, karena turning pointku banyak, beberapa kali. Dan sepertinya masih ada lagi nantinya. Caraku melihat dunia begitu berbeda. Ada hal yang tadinya penting jadi tidak penting, dan sebaliknya. Sampai sekarang akupun masih keheranan...

Aku takjub dengan semua perubahan ini. Aku sekarang banyak mensyukuri semua yang aku alami, karena Allah mengabulkan banyak do'a-do'aku. Saat di Bogor tahun 2003-2009 aku menghadapi kehidupan yang sulit. Aku banyak menangis karena perlakuan suatu keluarga besar yang menurutku aneh banget. Dari uang belanja yang tidak masuk akal (bekerja di kakaknya sendiri di bengkel dengan omzet jutaan rupiah perhari), makanan disembunyiin (semua boleh makan kecuali aku karena tidak menyumbang uang belanja), dan brainwash dari mantan suami yang mengatakan untuk dimuliakan Allah mesti nerima gitu saja semua kejadian menyakitkan ini.Si mantan ini mengaku berhati mulia, ternyata tega menerorku lewat SMS akan membunuhku dan menyiksaku (aku sempet bilang, muslim yang baik tidak akan menyakiti hati orang lain apapun alasannya).Surat-suratku yang berisi ayat-ayat Al Qur'an awalnya dibaca, akhir-akhir ini dikembalikan dengan catatan tidak dikenal. Tadinya aku marah, sekarang aku kasiaaaan banget sama mereka. Tadinya aku yang merasa tersesat, sekarang aku melihat ada keluarga besar di Bogor ini masih tersesat. Saat itu aku sering membayangkan, andai aku bisa di Jogja lagi, bisa main sofbol lagi, sepedaan lagi, main piano lagi...

Sekarang ini aku mendapat semua yang aku bayangkan dulu, hanya ada pengorbanan besar, anakku kembar Safira dan Safitri, aku dipersulit untuk menemui mereka. Tapi yang membuat aku takjub, aku mensyukuri saat-saat indah bersama mereka. Bagaimanapun ada sentuhanku pada diri Safira dan Safitri, mereka tomboi juga kayak aku, suka pake celana dan kaos. Saat masuk SD tahun ajaran ini mereka sudah bisa membaca dan menulis dari semua jerih payahku selama 5 tahun merawat mereka...

Aku sekarang sibuk merawat anak-anak orang lain, mudah tersenyum melihat sikap anak yang lucu-lucu. Aku meyakini ada saatnya aku akan ketemu Safira dan Safitri lagi, ini hanya masalah waktu...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

17 comments:

  1. Loh mbak?! emang Safira Sama Safitri sekarang ikut siapa? yang sabar ya mbak...

    LDL ini namanya.

    ReplyDelete
  2. disyukuri aja Mi.. itulah namanya lika-liku hidup.
    apa yang udah dilalui, itulah yang membentuk diri kita menjadi tang sekarang.

    Keep Spirit yeaah!

    ReplyDelete
  3. Sabar ya Mba...

    Di balik semua pasti ad hikmahnya, tidak ada yg tau kan, apa yg hilang hari ini mungkin saja telah menunggu kita esok hari....

    ReplyDelete
  4. ouw, are you..?
    disyukuri aja mbak..
    terlepas dari sgala yg terjadi di dalamnya, life itself was a miracle :)

    ReplyDelete
  5. amin,..semoga Allah menjawabnya.
    sabar y mbk

    ReplyDelete
  6. terus bersabar y jeung
    salam hangat dari blue

    ReplyDelete
  7. saya juga takjub...
    tetap bersabar ya Mbak :)

    ReplyDelete
  8. sabar aja Mba, semua pasti ada jalan keluarnya :) jangan ngerasa sendiri. banyak orang yang ngedoain mbak dan nemenin mbak.

    ReplyDelete
  9. itulah kehidupan
    jika kau bertemu, maka relalah untuk berpisah
    jika kau hidup, maka relalah untuk mati
    jika kau mempunyai, maka relalah untuk kehilangan

    ReplyDelete
  10. hidup tidak selalu lurus,, karena hidup memang perlu ada liku,,, yg penting kita sudah tau inti kenapa kita hidup.... keep smile sis

    ReplyDelete
  11. @ Ajeng. Proses kehidupan kadang memang tidak mudah, saat melewatinya, baru kerasa hikmah yang didapatkan. Malah sekarang aku banyak bersyukur pada Allah karena perspektif hidupku yang membuatku melihat dunia jadi begitu indah. Sesuatu yang aku tidak miliki sebelumnya...

    ReplyDelete
  12. @ Gaphe, wah sekarang bisa merasakan rasa syukur itu. Bersyukur karena bisa merasakan rasa syukur... Wah, kok mbulet yah...

    @ Mr. TM, iya, hikmah luar biasa yang aku dapatkan. Tx

    ReplyDelete
  13. @ YeN, sesuatu yang membuatku bersalah adalah aku mencintai hidupku sekarang, dan melupakan mereka padahal dulu mereka selalu mbuntuti aku. Semoga Allah memberiku kekuatan untuk menemui mereka...

    ReplyDelete
  14. @ Wits, Allah sudah menjawab. Allah selalu mendengar. Masalahnya aku yang merasa belum siap lagi ketemu mereka, tapi mesti siap. Butuh proses lagi, pembenahan hati lagi...

    ReplyDelete
  15. @ wits, iya sabar itu selalu diusahakan dalam semua masalah gak ini aja. Tx

    @ blue, salam hangat kembali

    ReplyDelete
  16. hidup mbak ami emang penuh warna,
    sabar ya mbak ami,
    suatu saat mbak ami pasti bahagia atau sudah sekarang mungkin :)

    ReplyDelete