Terima kasih Allah, terima kasih Mama

5 Comments

Waktu ngajar di playgrup, ada dua murid perempuan menangis. Murid yang satu menangis sambil berteriak-teriak seperti histeris melihat mendung. Murid satunya menangis pelan sambil mengatakan lirih "kapan Mama jemput"...

Murid yang berteriak histeris itu baru saja dipertemukan dengan psikolog di kantor sekolah. Menurut psikolog, anak ini trauma dengan mendung, hujan, angin, gunung meletus. Dari penjelasan bapaknya, ternyata sempat melihat langsung angin puting beliung.

Untuk mengatasinya, akhirnya diceritakan buku untuk anak-anak berjudul GUNUNG MELETUS. Bahwa gunung itu di dalamnya ada batu, kerikil, pasir, abu yang harus dikeluarkan. Bila gunung meletus maka manusia menyingkir sementara, nanti akan kembali lagi bila suasana sudah aman. Diteruskan lagi ceritanya, karena itu kita mesti berterima kasih pada Allah karena abu gunung meletus bisa membuat tanaman jadi subur. Sedangkan pasir, kerikil dan batu bisa untuk membuat membangun rumah.

Sepertinya cerita ini bisa membuatnya puas, karena setelah selesai guru bercerita, anak ini merenung sebentar dan tidak menangis lagi.

Sedangkan anak satunya lagi yang menangis ingin ketemu mamanya, aku tanya, paling suka diajak mama kemana. Katanya diajak belanja ke toko. Terus aku bilang, nanti pulang bilang terima kasih sama Mama ya, soalnya sekarang bekerja mencari uang agar bisa belanja keperluan di rumah, jadi sementara itu menunggu di sini sama temen-temen.

Penjelasan sederhana ini Alhamdulillah cukup mengena. Lama-lama dia diam, lalu mulai ngobrol sama teman-temannya.

Dan, semoga aku sendiri juga bisa selalu bersyukur pada Allah dan berterima kasih pada orang tua...

Amy

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

5 comments:

  1. AWW AMi,
    Subhanallah, sebuah pendekatan sekaligus proses pendidikan yang indah untuk anak-anak. Ada hikmah setelah baca postingan ini

    ReplyDelete
  2. Bentuk edukasi yg sgt mengena. Edukasi dg pendekatan psikologi dan kultural sejak TK akan melahirkan generasi optimis yg berkualitas, ntuk mengurangi kwantitas generasi bingung.
    Sharingnya mantab mbak, salam sobat :)

    ReplyDelete
  3. wah mesti punya jiwa telaten dan kesabaran ekstra nih menjadi guru ank-anak.. sukses ya mbak

    ReplyDelete
  4. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    ——
    Masya ALLAH...mbak Ami pendekatnanya ajib..
    Subhanallah..
    Subhanallah..

    Oh ya mbak Ami, boleh saran? Kok blog mbak Ami klo dscroll berat ya? Kyknya gara2 widgetnya berlebihan mbak?
    feedjit lebih baik dihilangkan. new post mungkin diambil 10 aja, atau 15 tanpa sumari...

    hanya saran mbak ^^

    ——

    صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

    ReplyDelete
  5. @ Djangan Pakies, entah ya, guru di kelasnya kewalahan. Dan hanya sekedar insting saja, saat saya menjaga anak ini yang dititipkan sampai sore ada inisiatif begitu. Alhamdulillah mengena...

    @ Gaelby, bila terfokus pada musibah maka menyakitkan, jadi difokuskan pada hikmahnya. kira-kira begitu

    @ Lozz Akbar, yah, yang berminat untuk mengajar anak playgrup memang sudah tersaring yang cinta anak-anak tentu saja. dan mau berusaha diterima, belajar banyak dari senior, saya ini guru paling yunior lho, baru setahun ini...

    @ Bumi. terima kasih sarannya. saya sudah hilangkan widget2nya. ini lagi mikir, apa kalo ada foto juga ngaruh blognya jadi berat ya...

    ReplyDelete