Kenapa Safira dan Safitri diberi hp

3 comments
Ada komentar di postingan saya berjudul Percakapan ajaib dengan keluarga Sudirman 56 Bogor. Pertanyaannya, bagaimana hubungan anak dengan orang tua dan kenapa anak kelas 1 SD diberi hp.Ini kisah tersendiri, karena Safira dan Safitri diambil dari saya tanpa pamit sejak Juli 2009.

Untuk anonim, sebelumnya saya minta maaf bahwa pertanyaan sebelumnya saya hapus. Saya sendiri masih bingung menjawab karena saya merasa sulit membahagiakan Ibu saya. Kata kakak saya, Ibu saya sering sedih melihat saya mendapat nasib "buruk", tapi itu dulu, sekarang Alhamdulillah tidak. Saya sekarang bercerai, uang pemberian almarhum Bapak untuk merenovasi dan mengisi rumah mantan diakui jadi hak miliknya, anak-anak saya diambil bukan untuk dirawat sendiri karena dia keluar dari pekerjaannya tapi dititipkan pada Ibunya, dan sekeluarganya mencari-cari kesalahan saya. Memang ada kejadian saya pernah emosi tidak mau berdekatan dengan mantan sehingga saya melempar asbak ke perutnya. Itu karena mantan pernah menulis lewat sms bahwa hidupnya sekarang akan membuat saya menderita, termasuk saya berhak dipotong lehernya dan disiram air aki.

Apakah itu gertakan? Saya hanya bisa bilang saya pernah takut setengah mati, termasuk seluruh keluarga saya. Setiap kali saya membaca berita seorang wanita dibunuh disiksa oleh suaminya sendiri saya menangis. Dan pada akhirnya saya membiasakan untuk menyebut nama Allah, berdzikir, bila ada orang yang khilaf terus membunuh saya, atau kecelakaan, saya reflek untuk menyebut nama Allah.

Apakah itu nasib buruk? Karena harta peninggalan almarhum Bapak diakui jadi hak milik mantan, juga saya dipisahkan dengan anak yang saya cintai. Anak kembar yang  saya susui walaupun sempet berantem dengan kakak ipar disuruh kasih susu botol. Yang saya ajarin membaca tiap hari dari umur 2-4 tahun agar bisa membaca buku Iqro' dan huruf latin. Buat saya bukan nasib buruk, karena ajaran Islam mengatakan bahwa hidup di dunia hanyalah tipuan belaka. Manusia seharusnya bertujuan mencari akhirat dengan tidak melupakan urusan dunia.

Ada yang komentar apakah yang masuk surga harus bersedih terus, saya akhirnya setelah belajar ajaran Islam menjawab tidak. Karena manusia yang benar-benar menjalankan ajaran Islam akan selalu bersyukur, bila orang yang bisa bersyukur maka Allah akan memberikan nikmat, sedangkan yang tidak bersyukur Allah akan memberikan azab yang pedih.

Allah berfirman:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(QS. Ibrahim[14] : 7)

Awalnya waktu anak saya diambil saya memang sedih, tapi  perceraian membuat saya dan keluarga lega. Alasan keluarga lega, karena kehidupan saya yang terpuruk di Bogor, disia-siakan oleh satu keluarga besar dari keponakan,  kakak ipar, mertua, yang memutuskan saya tidak berhak mendapat makanan bahkan saat ada tamu dan mereka berbuka bersama selama bulan Ramadhan (tamu ini sampai keheranan kok saya tidak diajakin makan berbuka bersama oleh keluarga besar ini). Ada hadits berkaitan dengan hal ini

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda 
Tidak beriman orang yang merasakan kenyang sedangkan tetangga sebelahnya kelaparan padahal ia mengetahui” (HR. Thabrani dan Bazzaaar).

Reaksi suami saya (waktu itu) entahlah saya sudah lupa, tapi dia memberikan contoh buruk dengan tidak pernah melakukan shalat tapi teori-teori Islamnya yang sepertinya tinggi. Akhir-akhir ini saya baru sadar bahwa karena dia indigo, ucapannya hanya bisikan makhluk gaib, karena dia mudah melupakan apa yang diucapkan sendiri. Soal indigo ada di tulisan saya Indigo Mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, saya berdo'a semoga Allah mengampuni dosa-dosaku, semoga Allah mengampuni dosa-dosa orang tuaku, semoga Allah mengampuni dosa keluarga besar Sudirman 56 Bogor dan Allah menunjukkan jalan yang benar pada mereka...

Setelah anak saya diambil Juli 2009, saya memang sempet goncang. Tapi waktu itu lagi sibuk-sibuknya mau reuni  dan temen-temen saya sering ngumpul, jadi saya malah bersyukur tidak punya buntut  yang bisa membuat saya kesulitan menitipkan anak-anak karena tidak ada pembantu. Dan gara-gara Merapi (ma kasih ya gunung Merapi), tanggal 5 November 2010 ada banyak berita di koran abunya sampai ke Bogor. Membaca berita abu Merapi sampai Bogor saya menangis dan menulis Bisikan Merapi untuk Safira dan Safitri

Setiap hari setelah shalat saya berdo'a agar bisa bertemu Safira dan Safitri. Saya juga membayangkan bertemu dengan Safira dan Safitri sambil mendengarkan gelombang Alpha yang merupakan sisipan dari buku Quantum Ikhlas. Cerita gelombang Alpha ini ada di tulisan saya Gelombang Alpha untuk obat tidur.

Akhirnya saya mendapat rejeki tak disangka-sangka untuk ke Bogor, ada di tulisan saya Alhamdulillah mendapat rejeki tak disangka-sangka. Dan perjalanan untuk menemui Safira dan Safitri saya tulis di Bogor dan penyambungan tali silaturahmi..

Kenapa saya memberikan HP untuk Safira dan Safitri, karena waktu saya bertemu mereka membuang muka pada saya. Dan bujukan yang membuat mereka mau berinteraksi pada saya adalah setelah saya menawarkan memberikan mereka HP, 2 buah untuk Safira dan Safitri. Saya belikan model yang sederhana, tapi layar berwarna, Safira warna pink, Safitri warna biru. Saya beri nama nomor saya agar mereka bisa mengontak saya. Sudah saya ikhlaskan, walau ada komentar miring hp itu bisa-bisa dijual oleh ayahnya.

Ada komentar positif tentang pemberian hp ini, ada seorang keponakan saya yang ingat waktu kelas 1 SD dia diberi celana oleh tantenya dan dia terkenang sampai sekarang. Jadi hp ini maknanya yang menyatakan bahwa Safira dan Safitri bisa mengontak saya sebagai Ibunya kapan saja. Saya sudah tidak peduli apakah akhirnya hp ini dibuang atau dijual oleh ayahnya, hukum Allah sangat berat bagi orang yang mengambil bukan haknya. Orang yang mengambil hak orang lain dan tidak mau bertaubat dimurkai Allah, amal ibadah seperti shalat, zakat tidak diterima Allah, dan dipercepat siksa dunia dan akhirat.Belum lagi pahalanya diberikan pada yang haknya diambil, bila tidak punya pahala lagi, dosanya yang diambil haknya diambil dibebankan padanya.

Mengenai hubungan dengan orang tua, saya hanya bisa menyarankan agar bersikap sopan sebisa mungkin, Bila ada keinginan atas sesuatu hal, lakukan saja selama tujuannya baik dan dengan cara yang baik. Banyak berdoa agar orangtua akhirnya tau bahwa semua usaha itu tujuannya adalah baik. Bila selalu berusaha, shalat, berdoa, sabar Insya Allah semua dimudahkan Allah. Saya hanya bisa menjawab itu sementara ini...

Buat anonim, saya udah jarang buka e-mail. Kalo kontak saya di Facebook saja, maaf saya gak bikin link untuk masuk ke Facebook di blog ini. Facebook saya namanya Ami- Ratnawati Utami. Tapi saya juga jarang bikin status, hehehe... Facebook saya hanya untuk menjawab kontak teman SD, SMP, SMA, kuliah. Teman baru yang tidak jelas tidak saya confirm. Jadi kalo mau add friend, kasih penjelasan lewat message ya.

Kenapa saya menceritakan semua ini, motivasi paling kuat saya adalah untuk dibaca Safira dan Safitri bila mereka kelak sudah bisa membuka internet. Bila saya tidak punya kesempatan lagi bertemu mereka karena dihalang-halangi oleh keluarga besar yang mengasuhnya sekarang. Bahwa Ibunya mengikhlaskan mereka diasuh oleh orang lain walau kadang pedih merasa diputuskan bagian hidup yang pernah ada di rahimnya. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Safira dan Safitri...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

3 comments:

  1. Saya hanya tercenung membaca kisah Ami. Sungguh penuh liku-liku, mirip rollercoaster :)

    Tapi saya kagum. Ketegaran dan kesungguhan Ami menghadapi cobaan patut dijadikan renungan dan inspirasi pembacanya.

    Amiin. Semoga Allah menjaga Safira-Safitri hingga nanti bertemu kelak..

    ReplyDelete
  2. pengalaman hidup saya belum terlalu banyak dan hidup saya agak santai...(karena mungkin belum menikah).. membaca tulisan diatas...ooo ternyata ada ya hidup serumit itu...kykny kalo ak sudah ngga kuat menghadapinya...sukses buat anda..

    ReplyDelete
  3. @ Mas Darin, menjadi bijak itu tidak mudah. Saat orang lain sibuk bersenang-senang, manusia yang ingin bijak membaca buku. Salut juga sama mas Darin yang rajin membaca buku, bersikap bijak dan suka memotivasi orang lain.

    Sekedar tambahan ya mas Darin, sebelum menikah saya adalah anak manja dan nggampangin hidup dan tidak pernah besyukur. kalo keinginan tidak dipenuhi uring-uringan. Saya pikir semua setimpal, sekarang saya sering bahagia seperti Archimedes yang berteriak-teriak "Eureka, eureka"...

    @ Aisah, manusia diuji sesuai kadar keimanan. Begitu kita memutuskan untuk beriman, Allah akan menguji keimanan kita sejauh apa. Jadi itu tergantung kita sendiri. Semakin tinggi cita-cita kita, semakin sulit ujian yang ditempuh.

    Cita-cita ingin mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat bukan sesuatu yang tidak mungkin. Bahagia di dunia, dan bahagia kelak di akhirat. Walaupun butuh tangisan kesedihan dan tangisan syukur yang mendalam saat Allah memudahkan urusan kita

    ReplyDelete