Sesaat mengunjungi posko pengungsi Merapi

6 comments
Senin, 8 November 2010, saya dan beberapa guru playgrup Budi Mulia Dua Terban Yogyakarta, ditambah remaja masjid dekat sekolah, mengunjungi lokasi pengungsi Merapi di dusun Gulon, kecamatan Srumbung, kabupaten Magelang, Jawa Tengah.



Rombongan sampai di sana sekitar jam 8 pagi. Khusus anak-anak dikumpulkan, diatur melingkar di tengah balai dusun Gulon yang berukuran sekitar 20m x 12m. Anak-anak yang terkumpul jumlahnya berkisar 170 anak, dari 5 desa. Mereka cukup merespon baik saat diajak tepuk, menyanyi bareng diiringi gitar, terus nonton bareng film Garuda di Dadaku.

Tiba-tiba ada kejutan, ada rombongan datang dari kementrian Lingkungan Hidup. Bapak Gusti Muhammad Hatta, memberikan beberapa bungkusan bantuan dan sejumlah uang tunai. Bapak Menteri juga sempat memimpin do'a bersama.

Setelah Bapak Menteri meninggalkan lokasi, anak-anak diberi beberapa snack yang dibungkus plastik. Kemudian beberapa saat kemudian anak-anak diberi nasi bungkus untuk makan siang. Kelihatannya untuk sesaat saat kami di sana mereka cukup merasa senang, sampai ada yang bilang "kapan-kapan datang lagi ya". Sesaat sebelum kami pulang, kamu juga membagikan souvenir berupa buku tulis dan alat tulis, dengan harapan semoga mereka tetap berniat dan senang untuk belajar.

Dari yang saya rasakan, beberapa jam di sana, agak tidak nyaman, gerah, tenggorokan kering, mata pedas, tidak punya privasi, dan mencoba membayangkan mereka hidup di sana berhari-hari, dan kami hanya sesaat berada di sana untuk membuat anak-anak merasa senang.

Akhirnya sekitar jam 11 siang kami pulang ke Jogja, menembus kabut hujan debu di sepanjang perjalanan. Dan saat menulis sekarang ini saya berdo'a,  minta supaya Allah memberi kami semua ketabahan, dan semoga bencana cepat mereda.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

6 comments:

  1. Terharu membacanya :(

    Karena anak-anak memang harus jadi prioritas pada penanggulangan bencana. Trauma yg mereka rasakan bisa terekam dalam ingatan di sepanjang hidup mereka. Setuju, harus buat mereka terus bergembira. Apalagi ada guru playgrup, waah makin seneng deh hehe

    Btw, pak menteri demen juga ya bikin kejutan? :D

    ReplyDelete
  2. semoga jadi pelajaran buat kita2. apa yang kita lihat di kejadian ini.

    ReplyDelete
  3. @ mas Darin, senyum tulus itu sedekah, menyngkirkan duri/paku di jalan juga sedekah. Minimal berusaha membuat mereka senang sesaat...

    @ mas Andi, yah, menolong orang lain dengan ikhlas (tanpa mengharap balasan dari orang lain kecuali Allah) itulah ajaran Islam... tx buat komennya

    ReplyDelete
  4. Semoga bencana ini cepat berlalu, Mbak. Amin.

    ReplyDelete
  5. Sy malu tidak bisa berbuat banyak untuk mengurangi beban mereka. Hnnya bisa berdo'a dan menyisihkan sebagian harta saja. Semoga merapi sembuh dari batuk pileknya, dan para korban diberi ketabahan. Amin

    ReplyDelete
  6. @ pak Joko, kita semua berdo'a sama-sama ya. Ini ibarat kiamat kecil sebelum mendapat kiamat besar. Setelah kiamat besar semua makhluk ditempatkan di padang mashyar dengan penuh kecemasan memikirkan nasib seberapa besar mereka sudah melakukan amal ibadah selama hidup di dunia ini. Dan itu diibaratkan saat ibadah haji kita melakukan wukuf di Mina(umroh tidak melakukan wukuf), merenung di tenda, intropeksi atas kesalahan diri sendiri dan banyak berdoa dan berdzikir. Terima kasih komentarnya

    @ Mas Em Zanu, bersedekah itu suatu kebaikan, berdo'a itu ibadah. Kita melakukan kebaikan sesuai kemampuan dan posisi kita masing-masing. Berniat lalu melakukan kebaikan itu sudah lebih dari cukup. Bukan saya yang menghargai, tapi Allah yang menghargai Mas Em Zanu, bukankah itu sangat berarti...

    ReplyDelete