Safira Safitri dan sop buntut Mak Emun di Bogor

1 comment
Bagi yang tinggal di Bogor, siapa sih yang gak kenal sop buntut mak Emun? Di jalan Sudirman saja ada 2, satunya di ruko agak mendekat ke air mancur, satunya berdekatan dengan toko ban ANDA BAN, tempat ayahnya Safira dan Safitri bekerja (bosnya ya pakdhe nya Safira Safitri itu).

Tapi ini bukan menyangkut makanan, ini berkaitan dengan lokasi tempat tinggal Safira dan Safitri di Lebak Pilar yang berdekatan dengan tempat memasak sop buntut Mak Emun. Saat Safira dan Safitri berumur 4 tahun, kami sekeluarga pindah rumah ke dekat jembatan Sempur.
Sekedar pendahuluan saja, aku mau cerita hal yang berkaitan dengan cerita ini supaya lebih bisa dipahami. Dulu tahun 2009 aku di Bogor aku ikut pengajian di daerah kompleks Baranangsiang tiap hari Kamis. Ada ibu peserta pengajian yang menangis waktu ikut pengajian. Lama dia menahan diri tidak menceritakan masalahnya kenapa. Akhirnya pecah juga tangisnya suatu hari, dan dia bercerita bahwa suaminya berubah perangai karena ada godaan makhluk halus.

Ada cerita lain, waktu bulan Juli 2010 aku di Jakarta, ada temenku ngajak aku ngobrol ke FX, sambil menangis dia bercerita bahwa suaminya berubah perangai. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya yang di Bogor, tapi yang di Jakarta sudah memasang fotonya berpelukan dengan suami dan anak-anaknya di foto profil FB. Dan statusnya serta komentar suaminya menunjukkan bahwa hubungan dia dan suaminya sudah hangat lagi.

Yang ini cerita dari kejadianku sendiri. Suatu hari di tahun 2009, hari apa tepatnya aku lupa, semalaman aku tidak bisa tidur, mengurung diri di kamar, karena ayahnya Safira dan Safitri mengamuk teriak-teriak di ruang tengah. Besok pagi-pagi ada bekas muntahan dari ruang tamu sampai dapur. Safira dan Safitri diamankan di sebelah rumah, atau rumah budhenya. Neneknya akhirnya datang dan kita semua membereskan kericuhan yang terjadi.

Pagi setelah kegaduhan aku belanja di warung sekaligus pemilik sop Buntut Mak Emun. Ibunya nanya ke aku "tadi malam ada apa ya, sakit apa kok teriak-teriak". Aku jawab "gak papa kok bu", padahal aku lagi gemeteran banget.

Aku bukan orang yang bisa melihat gaib, jadi aku tidak bisa cerita sebetulnya ada kejadian apa. Yang aku tahu, beberapa minggu sesudah itu aku sakit, otakku blank dan fisikku gak ada tenaga. Aku minta ijin untuk ke Jogja. Setelah berhari-hari aku tidak balik ke Bogor, tau-tau ayahnya Safira dan Safitri nongol katanya kangen dengan anaknya. Pas aku bangun dari bobok siang, Safira dan Safitri serta ayahnya sudah tidak ada...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment:

  1. Setiap ke blog ini, postingannya selalu update dan menghibur
    Terimakasih yaa
    terus semangat blogging nya yaa
    serem juga ceritanya

    Love Bogor

    ReplyDelete