Mimpi buruk

1 comment
Bila Nabi Ibrahim bermimpi memotong leher anaknya yang menjelang remaja, yaitu Ismail yang sangat dicintainya, itu adalah ujian ketaatan dari Allah. Kalo aku dulu pernah bermimpi buruk karena jiwaku sedang tertekan, sedang hampir mati, tidak memancarkan cahaya kehidupan.

Awal kuliah di UGM akhir 80an, aku belajar membaca Al-Qur'an secara privat. Tapi menjelang lulus di awal 90an aku jarang mengaji lagi. Saat itu aku sering mimpi buruk.

Mimpi burukku adalah, saat bangun aku tidak bisa bangun. Aku seperti sudah bangun, bangkit dari tempat tidur terus keluar kamar. Tapi ternyata aku masih dalam mimpi, membuat frustrasi. Aku kebingungan, dan mencoba tidur lagi dalam mimpiku supaya bisa bangun ke dunia nyata. Setelah usaha berulang-ulang agar bisa ke dunia nyata membuat mataku bangun, tapi tubuhku tidak bisa digerakkan. Saat-saat sulit, dan aku mencoba aku membaca ayat-ayat pendek Al-Quran semampuku.  Awalnya dengan mencoba menggerakkan ujung jempol dengan sangat berat. Akhirnya setelah perjuangan lama baru bisa digerakkan jempol kakinya, baru pelan-pelan seluruh tubuh. Kalo aku cerita ini ke orang lain, komentarnya ringan "lupa berdo'a kali"...

Pertengahan tahun 2009 sampai pertengahan 2010 mimpi burukku yang sering aku alami adalah aku sering duduk di bangku sekolah. Aku dimarahin guruku saat itu, intinya marah padaku, aku tidak mau belajar katanya. Aku bangun dengan terengah-engah dan terpukul. Kadang keluar memandang ruang tengah untuk melihat foto diriku di dinding yang memakai toga. Ternyata aku sudah lulus kuliah ya, sampai rasanya tidak percaya.

Fase mimpi buruk dimarahin di bangku sekolah sudah lewat setelah aku membiasakan diri untuk rutin membaca Al-Quran. Setelah di Jogja pertengahan tahun 2009 aku memang belajar agama Islam lebih mendalam. Aku belajar Islam secara privat pada seorang wanita, lebih muda padaku lulusan pesantren yang bisa berbahasa Arab. Sekarang hatiku sudah jauh lebih tenang. Kadang aku menangis karena bahagia bisa merasakan senyum yang nyata, bukan senyum palsu hanya di bibir bukan di hati. Bisa tersenyum dengan nyaman tanpa kepalsuan itu ternyata sesuatu yang sangat membahagiakan... Alhamdulillah..
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment:

  1. adanya kaLanya mimpi memiLiki makna tersendiri, tetapi di baLik itu ada juga yah mimpi yang memang terbawa karena perasaan hati. mungkin di saat sedang geLisah ataupun sedang bahagia, karena daLam kondisi demikian sampai dipikirkan mendaLam hingga akhirnya terbawa sampai tidur :D

    ReplyDelete