Kenangan

3 comments
Aku mulai teringat sedikit-sedikit sama Safira dan Safitri. Dulu setiap hari mereka sekolah di madrasah dekat rumah. Sepupunya yang umurnya sama, 4 tahun waktu itu, membedakan warna aja tidak tahu. Tapi Safira dan Safitri sudah bisa membaca. Aku ajari membaca dari potongan kardus susu yang digunting empat persegi panjang yang dikasih tulisan misalnya RUMAH, MEJA, KURSI. Menunjukkan kartu ini sudah dari umur 2 tahun, dijadiin permainan sebelum tidur.

Setelah 6 tahun, masuk SD sudah bisa membaca, cerdas, keluarga yang mengasuhnya berat membolehkan ibunya merawat lagi. Ini memang kenangan yang membuat aku sedih. Aku tau kok alasannya aku gak boleh ketemu Safira dan Safitri. Ayahnya menyuruh aku tinggal di Bogor lagi (kalo perlu aku tidak usah pamit ibuku). Tapi aku tidak mau. Teror sms yang isinya mau menyiksaku menunjukkan dia orang temperamental yang sangat berbahaya bila khilaf.

Nenek yang mengasuhnya juga sangat tidak adil. Membela mati-matian keinginan anaknya, tidak mau tahu hukum tentang ajaran agama. Bukan masalah diasuh siapa, tapi biarpun diasuh di Bogor, kalo libur harusnya ibunya dikasih kesempatan untuk bertemu beberapa hari.

Ada teman yang indigo ngasih tau aku kalo ayah kembar di Bogor ini stres berat. Jadi istilahnya sebetulnya betah-betahan aja. Pengen aku balik, aku gak mau, anak disandera. Jadi Safira dan Safitri hanyalah alat dia untuk ego gak jelas. Keluarganya sama aja, ngebela ide orang stres yang omongnya ngaco.

Bagaimana dengan menurut ajaran Islam? Menurut Islam seharusnya hubungan silaturahmi tetap disambung. Dan mereka yang memutus silaturahmi (hubungan kekeluargaan terutama), tidak akan masuk surga, doa tidak dikabulkan, rejeki seret. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang berbuat dzalim dan memutus silaturahmi dipercepat siksa dunia dan akhirat.

Sudah tau sih, aku bertahan untuk tetap meningkatkan ibadah dan pemahaman Islam apapun yang terjadi. Latihan kesabaran untuk mengatasi rasa sedih itulah...

Tapi sambil menunggu kejutan dari Allah, aku tetap berusaha bersyukur, toh masih bisa hidup nyaman, punya pekerjaan, banyak teman baru, kegiatan menulis yang membuatku sering kehabisan waktu...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

3 comments:

  1. bersabarlah mbak Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya.... semoga mbak bisa tetep istiqomah dalam ibadah....... semoga Allah memberikan yang terbaik buat mbak....

    ReplyDelete
  2. Sabar ya mbak. Kadang hidup ini memang berat banget >.<

    ReplyDelete
  3. Aku jadi ingat :

    "Man Shabara Zhafira" ... Bagi siapa yang bersabar akan beruntung. hehhe.

    Karena aku lagi baca buku Ranah 3 Warna, kutipan ini sangat luar biasa. Smoga mbak di beri kekuatan untuk bisa menjadi orang yang bersabar. AMieenn

    ReplyDelete