Ketika acara tivi Silet ditiadakan

5 comments
Acara tivi Silet kena silet. Acara tivi Silet ditiadakan dan RCTI meminta maaf. Gara-gara tanggal 7 November menayangkan acara berkaitan dengan ramalan gunung Merapi akan meletus dengan letusan yang lebih dahsyat daripada sebelumnya. Radius yang dinyatakan bahaya akan mencapai 65 kilometer.



Lalu banyak sms dan twitter bersliweran menyampaikan berita di acara itu. Entah apa yang terjadi, katanya nih, katanya banyak ibu-ibu di Jogja jadi panik (masalahnya aku dan keluarga di Jogja rumah gak panik tuh). Pembicaraan ibu-ibu (soalnya yang panik biasanya ibu-ibu, biarpun masalah ini jadi topik pembicaraan terhangat saat itu di Jogja)  membayangkan persiapan untuk ngungsi dan apa yang harus diselamatkan duluan. Panik saat berbicara karena membayangkan mesti ngapain kalo panik bila ternyata gunung Merapi meletus beneran.

Itulah kekuatan berita tivi, lalu menjelma jadi kabar, yang tertuang di sms dan twitter. Hati-hati lho, tulisan itu ternyata bisa setajam pedang... eh... setajam Silet... (sambil sorot mata ditajamkan)...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

5 comments:

  1. Assalamu'alaikum sodaraku,
    hampir tiap hari kita dijejali dengan suguhan tontonan yang menurut saya kurang mendidik. Masyarakat dibawa terbang menuju sebuah angan-angan yang seringkali di luar jangkaunnya.

    Silet dan tontonan sejenisnya sering kali memaksakan diri memberikan berita-berita hanya dengan tujuan yang sempit. Misalnya ada peristiwa geologi, peristiwa kebakaran dan peristiwa penting lainnya, ujung-ujung dibagian akhir ditanyakan. "Mari kita tanyakan bagaimana pendapat Artis A, lalu artis B dan seterusnya.
    sebuah pemaksaan dalam mencari pendapat. Seharusnya yang diwawancarai adalah orang yang ahli dibidangnya bukannya menjual sisi selebristis.

    ReplyDelete
  2. Iya pak, memang perlu teguran agar memperbaiki tayangan. tapi wartawan infotainment suka mengambil komentar gak pas dari seleb supaya nanti jadi pembicaraan (misalnya katanya bintang sinetron ini begini lho, terus diketawain). tayangan itu baru enak ditonton pas bulan puasa aja menurut saya, di luar puasa ambur adul... tapi yah namanya juga di dunia ini kebaikan pasti melawan kejahtan, kita yang mau lurus bicara kebenaran aja... betul??

    ReplyDelete
  3. nah, ituLah saLah satu pemanfaatan dunia teknoLogi modern yang tidak mencerminkan efek pendidikan. yakni, hanya memikirkan unsur komersiLnya saja. seLebihnya hanya mengumbar gossip yang enggak jeLas. sangat disayangkan.

    tuLisan bisa juga diapLikasikan seperti Lidah. adaLah bahasa tuLisan. kaLau tidak saLah kita sebagai manusia normaL pada umumnya memiLiki tiga bahasa, yakni bahasa Lisan, bahasa tuLisan, dan bahasa tubuh.

    ReplyDelete
  4. Wah om rame, definisi tentang bahasa lisan, bahasa tulisan, dan bahas tubuh oke banget. saya selama ini belajarnya kita punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami. jadi diteruskan oleh om rame ini. mengekspresikan sesuatu dengan bahasa. bayi juga punya bahasa lho, nangis dan diam...

    ReplyDelete
  5. hahahaha...
    trims, Mbak Mia sudah meLengkapi cara padang saya.

    ReplyDelete