Kegalauanku dikalahkan keinginan untuk meninggal dengan khusnul khotimah

December 14, 2011 Amy 13 Comments




Sebetulnya kalo aku mau galau, aku punya seribu satu alasan. Dari kerinduan pada anak-anak yang menyakitkan. Kehilangan harta benda pemberian almarhum bapakku diaku-aku jadi milik seseorang. Menjadi "bukan siapa-siapa" dibandingkan sebagian besar teman-temanku yang sudah hidup makmur. Di sekelilingku banyak temanku punya suami dengan penghasilan lebih dari cukup, rumah bagus, beberapa mobil keren, anak-anak sekolah di sekolah pilihan. Atau temanku yang laki-laki bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar, memiliki istri cantik, anak-anak yang membanggakan dan sesekali berjalan-jalan keluar negeri.

Tapi sesuatu hal telah membukakan mataku. Sebetulnya aku malu mengakuinya, masih belum lama alias baru saja sekitar 2 tahun ini. Bahwa tugas manusia sebetulnya saat hidup adalah untuk mencari bekal akhirat. Dan itu memang sejak kecil, dimulai saat aku SD, almarhum bapak sudah menjadikan garasi kecil pas untuk satu mobil untuk tempat tarawih pada saat bulan Ramadhan. Sekarang rumah dengan garasi kecil itu sudah jadi kenangan, pindah ke bangunan sekolahan bertingkat dua, di tanah seluas 1000 meter persegi, satu pekarangan dengan tempat tinggalku sekarang.

Semenjak belajar untuk memahami hidup, aku sudah bisa tertawa lagi. Mentertawakan kesalahanku yang dulu. Kisah lama yang karena kesalahanku juga, bodoh gak mau belajar Islam dari dulu, sehingga bisa diakalin seseorang yang katanya mau mengajariku untuk ke surga. Sekarang aku belajar tentang Islam dan aku baru sadar ajaran Islam yang dijelaskan padaku banyak kelirunya. Dulu aku bodoh percaya pada dia, dan sekarang aku gak tau apa dia masih bertahan dengan pemahamannya yang keliru. Aku banyak belajar dari pembicara pengajian bapak-bapak pensiunan dosen yang dirintis almarhum bapak di rumahku.

Ngapain mikirin pendapat manusia lain, lebih penting memikirkan bagaimana kita menurut  Allah Sang Maha Pencipta. Pernah membaca tulisan seseorang menyatakan tentang dirinya "aku orang yang gak peduli dengan pendapat orang lain" aku bisa menangkap terusan kalimatnya yang tak tertulis "aku berhak melakukan apapun selama itu membuatku senang". Dari tweetnya, seorang blogger cewek yang aku belum pernah komentar di blognya karena sudah tidak respek dengan tulisannya, ternyata suka misuh-misuh (baca : mengumpat). Blogger model ini hidup untuk menyenangkan dirinya sendiri, menghalalkan segala cara, yang penting dia senang. Gak peduli pendapat orang lain yang mencoba menasehati dirinya, dan sepertinya tidak mau belajar aturan ajaran agama. Ahhhh... aku juga masih banyak salahnya, tapi sebetulnya memprihatinkan di dunia ini kenyataannya banyak orang gak peduli bila dinasehatin kebaikan atau belajar ajaran agama yang benar.

Aku kadang kalo ngeblog suka terhanyut baca referensi ini itu, sampe suka lupa dan gak sempet  blogwalking. Tapi tentunya masih disempetin semampunya. Banyak tulisan yang ingin aku posting di lima  blogku, itu juga belum kesampaian. Jadi katakanlah ada yang ribut karena sesuatu hal yang kutulis, malah jadi inspirasi tulisan dan pemahaman baru. Sebetulnya sih berharap bisa berdamai dengan beberapa orang yang gak mau dijawil lagi itu, tapi yah sudahlah. Salahku juga masih belum sabar kadang-kadang emosi atau error kalo menyampaikan sesuatu.

Alhamdulillah sekarang aku banyak tertawa. Kalo ditanya apa gak merindukan punya someone special, aku jawab kayak iklan Panadol "sudah lupa tuh". Kerja sampe sore, aktivitas olahraga dengan klub, sesekali mainin keyboard melatih lagu, sudah banyak menguras waktu. Suka kecapekan ketiduran kalo nonton film gak pernah tuntas. Ah... masih kacau manajemen waktunya, karena terlalu bergairah untuk menulis apa saja yang melintas di benakku. Dan kepuasan batin tiap kali menyelesaikan tulisan itu.

Hidup itu untuk dinikmati, tapi dengan banyak berbuat kebaikan di sekeliling kita. Ditambah dengan menyempatkan belajar Islam maka akan membuat hidup semakin hidup (kayak iklan rokok, padahal aku gak ngerokok, hahaha). Aku ingin meninggal dengan akhir yang baik, atau khusnul khotimah. Dan itu bisa didapatkan kalo kita rajin menabung untuk akhirat. Seperti almarhum bapakku yang telah meninggalkan rumah sebagai tabungan akhirat. Ada TK Terpadu Islami, tempat pengajian tetangga sekitar dan bapak-bapak pensiunan dosen, juga taman pengajian Al Qur'an.

Muda belajar dalam kebahagiaan, tua bekerja dan sedekah dalam kebahagiaan, Insya Allah mati masuk surga...

Sumber gambar dari sini

13 comments:

  1. siapa sih yang ga mau masuk surga
    kalau galau bisa menghalangi masuk surga, gawat nih :)

    ReplyDelete
  2. memang benar, pendapat Allah lebih penting dari pada pendapat manusia

    ReplyDelete
  3. Super... mbak... Menikmati hidup ya dengan cara berislam secara kaffah. Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil'alamiin :)

    ReplyDelete
  4. hai Mbak Ami, salam kenal.. Tenang aja, ngerasa nggak sesukses orang lain itu banyak temennya..

    Tapi berbuat baik untuk orang banyak yang membuat hidup kita lebih berarti daripada yang lain.

    ReplyDelete
  5. *TOS*....setuju yg ini:
    Muda belajar dalam kebahagiaan, tua bekerja dan sedekah dalam kebahagiaan, dan Insya Allah mati masuk surga...

    ReplyDelete
  6. Haha.. Someone spesial kok dikaitkan dengan iklan PANADOL!

    Banyain aktifitas aja biar gag selalu sibuk mikirin hal itu..

    ReplyDelete
  7. bener mbak,,biarin aja orang mau ngomong apa,toh dia juga gak peduli sama kita,,
    aku juga mau mbak masuk surga,,ajaran agamaku masih kurang,,harus banyak belajar lagi,,

    ReplyDelete
  8. kapan tuh mi..?
    halah kejam amat pertanyaannya ya..
    hehe piss...

    ReplyDelete
  9. wah kalau khusnul khotimah saya juga mau mbak... :)

    ReplyDelete
  10. penuhi hidup dengan amal shaleh. agar jika kematian tlah datang, tak kan jadi penyesalan..

    ReplyDelete
  11. semoga kita semua bisa meninggal dalam keadaan yang baik :) amin.

    ReplyDelete