Bangkit dari keterpurukan

4 comments
Beberapa buku yang sering kubaca saat kuliah ada buku-buku dari Dale Carnegie. Soalnya aku lulus kuliah S1 tahun 1994 berarti di akhir 90an. Ada terjemahannya di Bahasa Indonesia sejak lama.

Dale Carnegie adalah seorang motivator yang hebat. Lahir dari keluarga petani yang miskin, dengan kemampuannya untuk mengatasi masalah diri dan berhubungan dengan orang lain. Salah satu bukunya yang jadi best seller adalah How to Stop Worrying and Start Living.




Di buku itu awalnya Dale membahas kata worry. Intinya, sudahlah stop untuk gelisah. Hilangkan perasaan negatif terutama kegelisahan dan memulai hidup yang positif.

Aku sendiri tidak menyangka bahwa aku juga mengalami perjalanan hidup dengan merasa sangat terpuruk. Bolak-balik ke psikolog, tidak bisa berpikir sehat, ditawari bisnis gak jelas diikutin saja, sampai jual mobil dan minus tidak punya apa-apa. Di awal tahun 2000an aku memutuskan memulai hidup baru lagi, dengan sekotak baju bekas dari kakakku dan menjadi guru magang, gak usah aku sebut penghasilan berapa deh.

Cara untuk mengatasi kegelisahan orang itu macam-macam. Aku ketemu teman waktu SMP dulu, dulu dia hobinya nelponin aku cuman gak berani datang ke rumah. Iya pas aku SMP telponnya masih telpon kabel. Lama gak ketemu, ketemu di reuni SMP aku banyak cerita. Temenku ini menyarankan aku untuk rajin sholat malam, dan dia akan kirim SMS setiap tengah malam.

Selain sholat malam aku juga membuat blog tentang Islam. Kalau dibaca memang mungkin kurang terstruktur. Soalnya itu memang catatanku yang kupelajari soal Islam lalu kutulis di blog. Lalu memberanikan diri untuk kenalan dengan blogger lain. Sampai akhirnya kopdar dengan beberapa blogger.

Rajin sholat malam dan menulis tentang Islam memang tidak membuat langsung KAYA, banyak uang. Tapi aku jadi lebih bisa mengontrol keinginanku, mengerem keinginan membeli barang-barang konsumtif. Selain itu, dengan uang terbatas aku juga belajar memasukkan uang lebih banyak di kotak infaq masjid. Pernah aku nangis soalnya bingung, uang di dompet aku kuras lalu masukkan ke kotak infaq masjid semua. Dan percaya gak, dalam beberapa hari kemudian biasanya ada yang kasih aku amplop isinya berlipat-lipat. Itu gak terjadi sekali dua kali, tapi hampir selalu. Sekarang aku menyempatkan membantu kenalan baik yang sedang membutuhkan.

Salah satu trik untuk mengatasi perasaan jengkel, kesel sedih, merasa tidak dibutuhkan adalah dengan bersyukur. Dan bersyukur itu tidak hanya saat dapat rejeki atau kebahagiaan loh, saat "dijahatin" pun ambil sisi yang bisa disyukur. Misalnya "untung sahabatku sendiri tega nipu aku, aku jadi punya tabungan akhirat". Bisa berpikir kayak begitu gak mudah, bayangin, teman baik, sudah sering saling tukar pikiran mendalam bertahun-tahun, endingnya pinjam uang, dan dari gelagatnya tidak berniat mengembalikan. Itu jauh lebih menyakitkan daripada dicopet orang tidak dikenal. Gak langsung bisa positif dan mensyukuri, perlu berproses, membiasakan diri untuk mensyukuri hal-hal walaupun menyakitkan sekalipun.

Akhir-akhir ini aku mendengar beberapa cerita orang teman lama yang waktu mudanya bapaknya kaya raya, tapi begitu bapaknya meninggal beberapa teman lama itu jadi bangkrut hutang dimana-mana, sering dicariin debt collector. Aku tidak akan membantu orang yang orang itu tidak mau dibantu. Salah satunya misalnya dikasih tahu supaya meluruskan agamanya malah di grup WA suka menulis do'a versi banyak agama, katanya soalnya dia menganut pluralisme. Yang lain tak suruh bayar utangnya ke aku malah dipakai untuk investasi bisnis gak jelas. Banyak sekali faktor yang menghambat datangnya rejeki, tapi dikasih tahu gak mau.

Buku-buku lain yang bisa membuat bangkit dari keterpurukan antara lain buku dari ustad Yusuf Mansyur tentang rahasia sedekah atau Ippho tentang rahasia 7 keajaiban rejeki.

Kondisiku sih akhir-akhir ini Alhamdulillah sudah sangat membaik. Walau aku tidak bisa membuat buku yang lebih detil dengan judul yang bombastis, tapi aku coba membuat artikel pendek ini. Semoga bermanfaat...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

4 comments:

  1. Pada bagian ini:
    "Salah satu trik untuk mengatasi perasaan jengkel, kesel sedih, merasa tidak dibutuhkan adalah dengan bersyukur. Dan bersyukur itu tidak hanya saat dapat rejeki atau kebahagiaan loh, saat "dijahatin" pun ambil sisi yang bisa disyukur. Misalnya "untung sahabatku sendiri tega nipu aku, aku jadi punya tabungan akhirat". "

    Bener nih mbak, dan berhubung saya orang jawa, dalam budaya jawa ada sebutan tentang ujar-ujar yang mana menyebutkan bahwa "Rasa bersyukur di dalam suatu kesulitan."
    Misalnya kecelakaan motor parah, motor hancur tapi badan selamat. Kadang yg muncul di benak orang jawa seperti saya adalah "Untungnya cuma motor doang yg rusak, saya tidak apa-apa". Bagi setiap orang jawa, ada ajaran tentang nilai "nrimo/legowo" (menerima)/(ikhlas menerima) hal ini sudah diajarkan oleh kedua orang tua saya, bahwa tak ada habisnya jika hidup diisi dengan mengeluh, namun diisi dengan legowo dan nrimo, dan tentunya bersyukur.

    Sampai-sampai saya diingatkan akan satu surat al insyirah ayat 5-6, bahwasanya selalu ada kemudahan dibalik setiap kesulitan. Well begitulah :))

    Salam kenal...

    ReplyDelete
  2. Belum pernah baca buku yang itu. Alhamdulillah jarang banget "worry" soale aku serahkan hidupku pada-NYA. Alhamdulillah juga dulu suka baca surah Yaa Siin dan Al Waqi'ah selesai isya' dan itu sangat manjur untuk membuat resah gelisah khawatir pergi.

    ReplyDelete
  3. Wah, ada versi Bahasa Indonesianya enggak ya tuh buku? Penasaran.

    ReplyDelete
  4. Ngasih duit ke orang lain?. Waaaaa.....aku mau dong kalau dikasih duit begitu :D :D

    ReplyDelete