01 May 2011

Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai

01 May 2011
Mempunyai keinginan mesti mengukur kemampuan diri. Kayak aku misalnya, dengan tinggi 153 cm, gak mungkin akan bisa jadi pramugari. Apapun kekurangan sebagai manusia, mesti tetap memaksimalkan potensi yang ada.

Angan-angan itu bisa menjadikan seseorang mulia andai dia berangan-angan jadi seorang yang sholeh atau sholehah. Tapi sebaliknya angan-angan bisa menjadikan seseorang dilaknat oleh Allah, bila mempunyai keinginan untuk mempunyai banyak harta dan bisa bersenang-senang di dunia ini.

Allah berfirman:
Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar". Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS Al Qhasash : 79 - 81)

Banyak buku-buku motivasi yang menceritakan seseorang mampu mencapai cita-cita dengan petunjuk begini begitu. Tapi bagi yang ingin selamat dunia dan akhirat, maka petunjuk yang terbaik adalah Al Qur'an dan hadis.

Bila ingin selamat dunia akhirat, berangan-anganlah ingin menjadi orang yang sholeh atau sholehah. Biarpun tidak memiliki harta sekalipun, seseorang yang berangan-angan tinggi ingin melakukan kesenangan duniawi biarpun hanya sekedar keinginan, maka hal ini bisa membuatnya jadi sama buruknya dengan orang yang melakukan kesenangan duniawi dengan meninggalkan ajaran Islam yang benar.

Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda
"Dunia ini di huni oleh empat jenis hamba:

(pertama), hamba yang Allah ta’ala anugerahi harta dan ilmu sehingga keduanya menjadi perantara dia untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, menyambung tali silaturahmi, dan dia mengetahui hak-hak Allah ta’ala. Inilah sebaik-baik golongan.

(Kedua), hamba yang Allah ta’ala anugerahi ilmu namun tidak dianugrahi harta, maka dia berangan-angan: “andaisaja aku punya harta tentu aku akan beramal seperti amalanya si fulan (yakni golongan yang pertama)”. Golongan ini pahalanya sama dengan yang pertama.

(Ketiga), hamba yang Allah ta’ala anugerahi harta namun tidak dianugerahi ilmu, maka dia belanjakan hartanya itu seenaknya tanpa ilmu, dia tidak menggunakannya untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tidak juga untuk menyambung tali silaturahmi, dan bahkan dia sama sekali tidak tahu hak-hak Allah ta’ala. Inilah seburuk-buruk golongan.

(Keempat), hamba yang tidak dianugerahi harta dan tidak pula dianugrahi ilmu, maka dia berangan-angan: “andai saja aku punya harta tentu aku akan berfoya-foya seperti si fulan (yakni golongan yang ketiga)”. Golongan ini dosanya sama dengan yang ke tiga”.
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Blue Sky © 2014